Profil Singosari
Kecamatan Singosari
terletak di wilayah pemerintahan Kabupaten Malang,provinsi Jawa Timur.
terletak pada posisi ketinggian 400-700 meter dari permukaan laut dan Suhu
rata-rata Singosari adalah 17-27 derajat celcius, membuat wilayah ini memiliki
udara yang cukup sejuk. Pada awal abad pertengahan, penduduk di wilayah ini
banyak yang berprofesi sebagai petani karena letaknya cukup strategis untuk
bercocok tanam.
Dikarenakan
terletak di jalur utama Jalan yang menghubungkan Kota besar Malang - Surabaya,
membuat jalan Raya Singosari semakin lama semakin padat. terutama setelah
Wilayah Kota Batu dicanangkan sebagai Kota Wisata, banyak wisatawan melewati
jalan Raya Singosari, kemacetan di ruas jalan raya seringkali terjadi dan tidak
dapat di hindari lagi.
Luas wilayah Kecamatan Singosari ± 68,23 km².
Sebagian besar wilayahnya masih berupa lahan pertanian dan hutan lindung walaupun di beberapa lokasi yang
berdekatan dengan jalur arteri sudah mulai berdiri bangunan - bangunan besar
perusahaan.. di bagian barat wilayahnya tepat berada di kaki gunung Arjuno. di
sinilah banyak terdapat tanaman dataran tinggi seperti Kopi, Teh, Mahoni,
Sengon ,dan perkebunan Jagung.
Sekilas
Sejarah Singosari
Kebesaran
nama Singosari tidak lepas dari masa lalu sebuah nama
kerajaan yang cukup terkenal yakni Singhasari dengan Ken Arok sebagai raja dan
Kendedes sebagai permaisurinya . sebuah kerajaan kecil yang melahirkan keturunanya
hingga mebentuk sebuah kerajaan besar bernama Majapahit, yang mampu
mempersatukan Nusantara. dibawah kepemimpinan Prabu Hayam wuruk dengan Maha
patih Gajah Mada yang melegenda .
Salah
satu peninggalan kerajaan tersebut yang kini menjadi salah satu tempat wisata
andalan adalah Candi Singosari dan sepasang patung Dwarapala
yang merupakan patung terbesar di Indonesia, menurut penjaga situs sejarah ini,
arca Dwarapala merupakan pertanda masuk ke wilayah kotaraja, namun hingga saat
ini tidak ditemukan secara pasti dimanan letak kotaraja Singhasari. Selain itu
juga terdapat sebuah candi Budha atau tepatnya stupa di desa
Sumberawan dan diberi nama sesuai nama desa itu yaitu Candi Sumberawan.
Candi Sumberawan sering dipakai umat Budha sebagai pusat perayaan Hari Raya
Waisak di Kabupaten Malang.
Seni
dan Budaya di Singosari
Pertambahan
jumlah penduduk di Singosari terasa cukup tinggi. hal ini mungkin dipengaruhi
oleh banyaknya pendatang yang akhirnya menetap di Singosari, baik itu dari
kalangan pedagang, anggota militer, santri
maupun dari kelompok usaha yang lain. Dengan semakin banyaknya jumlah
penduduk dan pendatang, maka lahirlah kultur dan budaya baru di kalangan
generasi muda , bahkan saat ini terjadi semacam percampuran kebudayaan
Gelombang globalisasi
tak luput juga memberikan dampak bagi anak muda di wilayah ini, terbukti dari
terbentuknya kelompok punk dan grup band beraliran rock. Namun budaya Jawa juga
tetap dipegang oleh warga Singosari. Sebutan Kota Santri juga dibuktikan dengan
masih kuatnya kultur religius yang diaplikasikan oleh warga Singosari.
Pemerintah Kabupaten Malang memproyeksikan Singosari sebagai salah satu destinasi wisata budaya dan wisata religi bagi wisatawan, salah satu perwujudannya adalah dengan digelarnya Grebeg Singhasari oleh jajaran pemerintah bersama warga Singosari untuk mencerminkan kejayaan Singosari, dulu maupun sekarang.
Pemerintah Kabupaten Malang memproyeksikan Singosari sebagai salah satu destinasi wisata budaya dan wisata religi bagi wisatawan, salah satu perwujudannya adalah dengan digelarnya Grebeg Singhasari oleh jajaran pemerintah bersama warga Singosari untuk mencerminkan kejayaan Singosari, dulu maupun sekarang.
Markas
Militer
Sejak
masa penjajahan Belanda, wilayah Malang merupakan markas dari beberapa
institusi militer dan hal itu berlanjut sampai Republik Indonesia berdiri.
Beberapa institusi militer yang bermarkas di Singosari antara lain, Batalyon
Artileri Medan 1/105 (Armed), Batalyon
Kavaleri (YonKav)3/Serbu dan Divisi Infanteri 2/Kostrad
Di
wilayah timur Singosari juga terdapat Perumahan yang di peruntukkan bagi
keluarga besar Angkatan Udara yang sedang bertugas di Markas TNI AU Abdul
Rahman saleh.
Desa/Kelurahan
- Ardimulyo
- Banjararum
- Baturetno
- Dengkol
- Gunungrejo
- Klampok
- Langlang
- Purwoasri
- Randuagung
- Tamanharjo
- Toyomarto
- Tunjungtirto
- Watugede
- Wonorejo
- Losari (kelurahan)
- Pagentan (kelurahan)
- Candirenggo (kelurahan)
Singosari
kini
"Perubahan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari oleh siapapun yang memiliki
umur".
begitu
juga dengan kecamatan Singosari.
singosari yang dahulu pernah jaya sebagai kerajaan dan merupakan bagian
terpenting dari awal bersatunya nusantara, kini mulai meredup.Perubahan
terbesar yang bisa dilihat adalah dalam hal budaya.
Kebudayaan
Jawa yang merupakan akar dari berbagai kebiasaan yang dipakai oleh penduduk
Singosari dahulu yang banyak menganut budaya dari agama nenek moyang (Hindu dan
Budha) tentunya banyak mengalami
perubahan setelah masuknya agama Islam di bumi nusantara. Namun tidak semua
perubahan budaya penduduk Islam di Timur tengah bisa serta merta merubah
kebiasaan orang Jawa. Maka tampilah tokoh-tokoh Islam dengan memakai atribut
Jawa yang mulai bisa diterima oleh penduduk Jawa , termasuk di wilayah
Singosari.
Dengan
diterimanya Islam sebagai agama mayoritas, maka perubahan budaya Jawa yang
Islami mulai berkembang, maka lahirlah perpaduan budaya yang melahirkan budaya
baru. Hal ini bisa kita lihat masih adanya acara-acara sakral seperti neloni,
mitoni ,gerebeg Suro, gerebeg Maulid serta penanggalan jawa yang hampir sama
jumlahnya dengan penanggalan hijriyah dan lain-lain.
Di
Singosari sendiri sejak tahun mulai
berdiri pondok - pondok pesantren yang menjadi tempat belajar ilmu - ilmu Islam.
Dari keterangan para tokoh masyarakat dan beberapa literatur , Pondok pesantren
tertua yang ada di wilayah Malang raya adalah Pondok pesantren Bungkuk. dibawah
asuhan Kyai Tohir sebagai Pimpinannya. Dengan demikian, hingga saat ini dengan
semakin bertambah banyaknya jumlah pondok pesantren, maka pantaslah jika beberapa
tokoh masyarakat dan ulama mendeklarasikan Singosari sebagai kota santri.
Dari
sini kami mulai berusaha menyusun dan mendata dalam bentuk daftar serta
mencatat dan menginformasikan beberapa hal yang berkaitan erat dengan wilayah
kecamatan Singosari.
Mulai
dari Situs Peninggalan Sejarah, Pendidikan,kegiatan penduduk,Usaha penduduk dan
lain lain. Kami juga akan merevisi buku ini tiap tahun.
Situs Sejarah
Berdasarkan
penyebutannya pada Kitab Negarakertagama pupuh 37:7 dan 38:3
serta Prasasti Gajah Mada
bertanggal 1351 M di halaman
komplek candi, candi ini merupakan tempat "pendharmaan" bagi raja Singasari terakhir, Sang Kertanegara,
yang mangkat pada tahun 1292
akibat istana diserang tentara Gelang-gelang yang dipimpin oleh Jayakatwang.
Kuat dugaan, candi ini tidak pernah selesai
Candi Singasari baru mendapat perhatian pemerintah kolonial
Hindia
Belanda pada awal abad ke-20 dalam keadaan berantakan. Restorasi dan
pemugaran dimulai tahun 1934
dan bentuk yang sekarang dicapai pada tahun 1936.
2.
Arca Dwarapala di Kelurahan Candirenggo
3.Candi Sumberawan Di Desa Toyomarto
Pendidikan
Dengan dicanangkanya Singosari sebagai Kota Santri ,
maka tempat pendidikan di Singosari sebagian besar bernuansa Islami.
Beberapa institusi pendidikan yang
ada di Singosari antara lain:
